Senin, 19 November 2012

PEMBELAJARAN AFEKTIF


PEMBELAJARAN AFEKTIF

BAB I
PENDAHULUAN

A.        Hakikat Pendidikan Nilai dan Sikap
Nilai adalah suatu konsep yang berada dalam pikiran manusia yang sifatnya tersembunyi, tidak berada di dalam dunia yang empiris. Nilai berhubungan dengan pandangan seseorang tentang baik dan buruk, indah dan tidak indah, dan lain sebagainya. Dengan demikian pendidikan nilai pada dasarnya merupakan proses penanaman nilai kepada peserta didik sehingga ia dapat berperilaku sesuai dengan pandangan yang dianggapnya baik dan tidak bertentangan dengan norma-norma yang berlaku.
B.        Aspek Afektif dalam Proses Pembelajaran
 Belajar dipandang sebagai upaya sadar seorang individu untuk memperoleh perubahan perilaku secara keseluruhan, baik aspek kognitif, afektif dan psikomotor. Namun hingga saat ini dalam praktiknya, proses pembelajaran di sekolah tampaknya lebih cenderung menekankan pada pencapaian perubahan aspek kognitif (intelektual), yang dilaksanakan melalui berbagai bentuk pendekatan, strategi dan model pembelajaran tertentu. Sementara, pembelajaran yang secara khusus mengembangkan kemampuan afektif tampaknya masih kurang mendapat perhatian. Kalaupun dilakukan mungkin hanya dijadikan sebagai efek pengiring (nurturant effect) atau menjadi hidden curriculum yang disisipkan dalam kegiatan pembelajaran yang utama yaitu pembelajaran kognitif atau pembelajaran psikomotor.
Secara konseptual maupun emprik, diyakini bahwa aspek afektif memegang peranan yang sangat penting terhadap tingkat kesuksesan seseorang dalam bekerja maupun kehidupan secara keseluruhan. Meski demikian, pembelajaran afektif justru lebih banyak dilakukan dan dikembangkan di luar kurikulum formal sekolah. Salah satunya yang sangat populer adalah model pelatihan kepemimpinan seperti ESQ ala Ari Ginanjar.
Oleh karena hal itu, aspek afektif ini sudah semestinya diberikan ruang khusus dalam proses pembelajaran. Agar target serta tujuan dari proses pendidikan yakni untuk memanusiakan manusia dapat terwujud dengan sempurna.

BAB II
PEMBAHASAN
A.        Pengertian Metode Pembelajaran Afektif
Pembelajaran afektif berbeda dengan pembelajaran intelektual dan keterampilan, karena segi afektif sangat bersifat subjektif, lebih mudah berubah, dan tidak ada materi khusus yang harus dipelajari. Hal-hal di atas menuntut penggunaan metode mengajar dan evaluasi hasil belajar yang berbeda dari mengajar segi kognitif dan keterampilan.

B.        Model-model Pembelajaran Afektif
Merujuk pada pemikiran Nana Syaodih Sukmadinata (2005), maka di bawah ini akan dikemukakan beberapa model pembelajaran afektif yang populer dan banyak digunakan, yakni sebagai berikut :
1.         Model Konsiderasi
Manusia seringkali bersifat egoistis, lebih memperhatikan, mementingkan, dan sibuk mengurusi dirinya sendiri. Melalui penggunaan model konsiderasi (consideration model) siswa didorong untuk lebih peduli, lebih memperhatikan orang lain, sehingga mereka dapat bergaul, bekerja sama, dan hidup secara harmonis dengan orang lain.
Model konsiderasi dikembangkan oleh MC. Paul, seorang humanis. Paul menganggap bahwa pembentukan moral tidak sama dengan pengembangan kognisi yang rasional. Pembelajaran moral siswa menurutnya adalah pembentukan pembentukan kepribadian bukan pengembangan intelektual. Oleh sebab itu, model ini menekankan kepada strategi pembelajaran yang dapat membentuk kepribadian. Tujuannya adalah agar siswa menjadi manusia yang memiliki kepedulian terhadap orang lain.
Adapun langkah-langkah pembelajaran model konsiderasi adalah :
1)        Implementasi model konsiderasi guru dapat mengikuti tahapan-tahapan pembelajaran seperti berikut:
2)        Menghadapkan siswa pada suatu masalah yang mengandung konflik, yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Ciptakan situasi ”Seandainya siswa ada dalam masalah tersebut.”
3)        Menyuruh siswa untuk menganalisis sesuatu masalah dengan melihat bukan hanya yang tampak, tapi juga yang tersirat dalam permasalahan tersebut, misalnya perasaan, kebutuhan, dan kepentingan orang lain.
4)        Menyuruh siswa untuk menuliskan tanggapannya terhadap permasalahan yang dihadapi. Hal ini dimaksudkan agar siswa dapat menelaah perasaannya sendiri sebelum mendengar respons orang lain untuk dibandingkan.
5)        Mengajak siswa untuk menganalisis respons orang lain serta membuat  kategori dari setiap respons yang diberikan siswa.
6)        Mendorong siswa untuk merumuskan akibat atau konsekuensi dari setiap tindakan yang diusulkan siswa. Dalam tahapan ini siswa diajak berpikir tentang segala kemungkinan yang akan timbul sehubungan dengan tindakannya.
7)        Mengajak siswa untuk memandang permasalahan dari berbagai sudut pandang untuk menambah wawasan agar mereka dapat menimbang sikap tertentu sesuai dengan nilai yang dimilikinya.
8)        Mendorong siswa agar merumuskan sendiri tindakan yang harus dilakukan sesuai dengan pilihannya berdasarkan pertimbangannya sendiri.
2.         Model Pembentukan Rasional
Dalam kehidupannya, orang berpegang pada nilai-nilai sebagai standar bagi segala aktivitasnya. Nilai-nilai ini ada yang tersembunyi, dan ada pula yang dapat dinyatakan secara eksplisit. Nilai juga bersifat multidimensional, ada yang relatif dan ada yang absolut. Model pembentukan rasional (rational building model) bertujuan mengembangkan kematangan pemikiran tentang nilai-nilai.
Langkah-langkah pembelajaran rasional :
1)        Mengidentifikasi situasi di mana ada ketidakserasian atu penyimpangan tindakan.
2)        Menghimpun informasi tambahan.
3)        Menganalisis situasi dengan berpegang pada norma, prinsip atu ketentuan-ketentuan yang berlaku dalam masyarakat.
4)        Mencari alternatif tindakan dengan memikirkan akibat-akibatnya.
5)        Mengambil keputusan dengan berpegang pada prinsip atau ketentuan-ketentuan legal dalam masyarakat.
3.         Klarifikasi Nilai
Setiap orang memiliki sejumlah nilai, baik yang jelas atau terselubung, disadari atau tidak. Klarifikasi nilai (value clarification model) merupakan pendekatan mengajar dengan menggunakan pertanyaan atau proses menilai (valuing process) dan membantu siswa menguasai keterampilan menilai dalam bidang kehidupan yang kaya nilai. Penggunaan model ini bertujuan, agar para siwa menyadari nilai-nilai yang mereka miliki, memunculkan dan merefleksikannya, sehingga para siswa memiliki keterampilan proses menilai.
Langkah-langkah pembelajaran klasifikasi nilai :
1)        Pemilihan. Para siswa mengadakan pemilihan tindakan secara bebas, dari sejumlah alternatif tindakan mempertimbangkan kebaikan dan akibat-akibatnya.
2)        Mengharagai pemilihan. Siswa menghargai pilihannya serta memperkuat-mempertegas pilihannya,
3)        Berbuat. Siswa melakukan perbuatan yang berkaitan dengan pilihannya, mengulanginya pada hal lainnya.
4.         Pengembangan Moral Kognitif
Perkembangan moral manusia berlangsung melalui restrukturalisasi atau reorganisasi kognitif, yang yang berlangsung secara berangsur melalui tahap pra-konvensi, konvensi dan pasca konvensi. Model ini bertujuan membantu siswa mengembangkan kemampauan mempertimbangkan nilai moral secara kognitif.
Model pengembangan kognitif dikembangkan oleh Lawrence Kohlberg. Model ini banyak diilhami oleh pemikiran John Dewey yang berpendapat bahwa perkembangan manusia terjadi sebagai proses dari restrukturisasi kognitif yang berlangsung secara berangsur-angsur menurut urutan tertentu. Menurut Kolhberg, moral manusia itu berkembang melalui 3 tingkat , dan setiap tingkat terdiri dari 2 tahap.
a.      Tingkat Prakonvensional
Pada tingkat ini setiap individu memandang moral berdasarkan kepentingannya sendiri. Artinya pertimbangan moral didasarkan pada pandangan secara individual tanpa menghiraukan rumusan dan aturan yang dibuat oleh masyarakat.
Tingkat prakonvensional terdiri dari dua tahap, yakni :
1.      Orientasi hukuman dan kepatuhan
Artinya anak hanya berpikir bahwa perilaku yang benar itu adalah perilaku yang tidak akan mengakibatkan hukuman, dengan demikian setiap peraturan harus dipatuhi agar tidak menimbulkan konsekuensi negatif.
2.      Orientasi instrumental relatif
Pada tahap ini perilaku anak didasarka pada perilaku adil, berdasarkan aturan permainan yang telah disepakati.
b.      Tahap Konvensional
Pada tahap konvensional meliputi 2 tahap, yaitu :
1.      Keselarasan interpersonal
Pada tahap ini ditandai dengan perilaku yang ditampilkan individu didorong oleh keinginan untuk memenuhi harapan orang lain.
2.      System social dan kata hati
Pada tahap ini perilaku individu bukan didasarkan pada dorongan untuk memenuhi harapan orang lain yang dihormatinya. Melainkan bagaimana kata hatinya.
c.       Tingkat postkonvensional
Pada tingkat ini perilaku bukan hanya didasarkan pada kepatuhan terhadap norma-norma masyarakat yang berlaku,akan tetapi didasari oleh adanya kesadaran sesuai dengan nilai-nilai yang dimiliki secara individu.
1.      Kontra sosial
Pada tahap iniperilaku individu didasarkan pada kebenaran-kebenaran yang diakui oleh masyarakat.
2.      Prinsip etis yang universal
Pada tahap ini perilaku manusia didasarkan pada prinsip-prinsip universal.
Langkah-langkah pembelajaran moral kognitif :
1)        Menghadapkan siswa pada suatu situasi yang mengandung dilema moral atau pertentangan nilai.
2)        Siswa diminta memilih salah satu tindakan yang mengandung nilai moral tertentu.
3)        Siswa diminta mendiskusikan/menganalisis kebaikan dan kejelekannya.
4)        Siswa didorong untuk mencari tindakan-tindakan yang lebih baik.
5)        Siswa menerapkan tindakan dalam segi lain.
5.         Model Nondirektif
Para siswa memiliki potensi dan kemampuan untuk berkembang sendiri. Perkembangan pribadi yang utuh berlangsung dalam suasana permisif dan kondusif. Guru hendaknya menghargai potensi dan kemampuan siswa dan berperan sebagai fasilitator/konselor dalam pengembangan kepribadian siswa. Penggunaan model ini bertujuan membantu siswa mengaktualisasikan dirinya.
Langkah-langkah pembelajaran nondirekif :
1)        Menciptakan sesuatu yang permisif melalui ekspresi bebas.
2)        Pengungkapan siswa mengemukakan perasaan, pemikiran dan masalah-masalah yang dihadapinya,guru menerima dan memberikan klarifikasi.
3)        Pengembangan pemahaman (insight), siswa mendiskusikan masalah, guru memberikan dorongan.
4)        Perencanaan dan penentuan keputusan, siswa merencanakan dan menentukan keputusan, guru memberikan klarifikasi.
5)        Integrasi, siswa memperoleh pemahaman lebih luas dan mengembangkan kegiatan-kegiatan positif.
C.      Kesulitan dalam Pembelajaran Afektif
Pertama, selama ini proses pendidikan sesuai dengan kurikulum yang berlaku cenderung diarahkan untuk pembentukan intelektual.dengan demikian keberhasilan proses pendidikan dan proses pembelajaran di sekolah ditentukan oleh criteria kemampuan intelektual.
Kedua, sulitnya melakukan control karena banyaknya factor yang dapat mempengaruhi perkembangan sikap seseorang.
Ketiga, keberhasilan pembentukan sikap tidak bisa dievaluasi dengan segera. Berbeda dengan keberhasilan pembentukan kognisi dan aspek ketrampilan yang hasilnya dapat diketahui setelah proses pembelajaran berakhir.
Keempat, pengaruh kemajuan teknologi,khususnya teknologi informasi yang menyuguhkan aneka pilihan program acara,berdampak pada pembentukan karakter anak.



JENIS - JENIS METODE PEMBELAJARAN

Dalam proses pemebelajaran seorang guru harus memiliki kreatifitas (kemampuan) dalam memberikan materi di kelas agar proses pembelajaran dapat berjalan sesuai dengan yang diinginkan, untuk itu dibutuhkan suatu metode pembelajaran yang dapat memberikan kemudahan bagi seorang pendidik agar proses pembelajaran lebih menyenangkan. Dalam prakteknya terdapat beragam jenis metode pembelajaran dan penerapannya di antaranya yaitu :

1.          Metode Ceramah
Metode ceramah yaitu sebuah metode mengajar dengan menyampaikan informasi dan pengetahuan secara lisan kepada sejumlah siswa yang pada umumnya mengikuti secara pasif. Metode ceramah dipandang monoton, karena penyampai informasi seperti ini tidak mengundang umpan balik. Sehingga langkah-langkah di bawah ini dapat dipakai sebagai petunjuk untuk mempertinggi kualitas hasil metode ceramah:
a.      Tujuan pembicaraan (ceramah) harus dirumuskan dengan jelas.
b.      Setelah menetapkan tujuan, harus diteliti sesuaikah metode ini dengan tujuan.
c.       Menyusun ceramah dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
·         Bahan ceramah dapat dimengerti dengan jelas, maksudnya setiap pengertian dapat menghubungkan pembicaraan dengan pendengar dengan tepat.
·         Dapat menangkap perhatian siswa.
·         Memperlihatkan kepada pendengar bahwa bahan yang mereka peroleh berguna bagi kehidupan mereka.
d.      Menanamkan pengertian yang jelas.
e.      Guru terlebih dahulu mengemukakan suatu cerita singkat bersifat ilustratif, sehingga dapat menggambarkan dengan jelas apa yang dimaksud.

a.      Kelebihan Metode Ceramah
·         Guru mudah menguasai kelas.
·         Guru mudah menerangkan bahan pelajaran berjumlah besar.
·         Dapat diikuti anak didik dalam jumlah besar.
·         Mudah dilaksanakan.
b.      Kelemahan metode ceramah:
·         Membuat siswa pasif.
·         Mengandung unsur paksaan kepada siswa.
·         Mengurung daya kritis siswa.
·         Anak didik yang lebih tanggap dari visi visual akan menjadi rugi dan anak didik yang lebih tanggap auditifnya dapat lebih besar menerimanya.
·         Sukar mengontrol sejauh mana pemerolehan belajar anak didik.
·         Kegiatan pengajaran menjadi verbalisme (pengertian kata-kata).
·         Bila terlalu lama membosankan.
·         Terkadang penafsiran murid dengan apa yang dijelaskan guru berbeda.

2.          Metode Eksperimen
Metode eksperimen adalah metode pemberian kesempatan kepada anak didik perorangan atau kelompok, untuk dilatih melakukan suatu proses atau percobaan. Dengan metode ini anak didik diharapkan sepenuhnya terlibat merencanakan eksperimen, melakukan eksperimen, menemukan fakta, mengumpulkan data, mengendalikan variabel, dan memecahkan masalah yang dihadapinya secara nyata.
a.       Kelebihan metode eksperimen:
·         Metode ini dapat membuat anak didik lebih percaya atas kebenaran atau kesimpulan berdasarkan percobaannya sendiri daripada hanya menerima kata guru atau buku;
·         Anak didik dapat mengembangkan sikap untuk mengadakan studi eksplorasi (menjelajahi) tentang ilmu dan teknologi, suatu sikap yang dituntut dari seorang ilmuwan, dan
·         Dengan metode ini akan terbina manusia yang dapat membawa terobosan-terobosan baru dengan penemuan sebagai hasil percobaannya yang diharapkan dapat bermanfaat bagi kesejahteraan hidup manusia.
b.      Kekurangan metode eksperimen:
·         Tidak cukupnya alat-alat mengakibatkan tidak setiap anak didik berkesempatan mengadakan eksperimen;
·         Jika eksperimen memerlukan jangka waktu yang lama, anak didik harus menanti untuk melanjutkan pelajaran; serta
·         Metode ini lebih sesuai untuk menyajikan bidang-bidang ilmu dan teknologi.

3.          Metode Demonstrasi
Demonstrasi adalah metode yang digunakan pada pengajaran manipulatif dan keterampilan, pengembangan pengertian, untuk menunjukkan bagaimana melakukan praktik-praktik baru dan memperbaiki cara melakukan sesuatu.
a.       Jenis Demonstrasi (Nursidik, 2002)
1)          Metode Demonstrasi Cara
Demonstrasi cara menunjukkan bagaimana melakukan sesuatu. Hal ini termasuk bahan-bahan yang digunakan dalam pekerjaan yang sedang dikerjakan, memperlihatkan apa yang dikerjakan dan bagaimana mengerjakannya, serta menjelaskan setiap langkah pengerjaannya. Biasanya dapat diselesaikan dalam waktu yang relatif singkat dan tidak memerlukan banyak biaya.
2)          Metode Demonstrasi Hasil
Demonstrasi hasil dimakduskan untuk menunjukan hasil dari beberapa praktik dengan menggunakan bukti-bukti yang dapat dilihat, didengar, dan dirasakan.
b.       Kelebihan
·        Demonstrasi menarik dan menahan perhatian
·        Demonstrasi menghadirkan subjek dengan cara mudah dipahami
·        Demonstrasi menyajikan hal-hal yang meragukan apakah dapat atau tidak dapat dikerjakan.
·        Metode demonstrasi adalah objektif dan nyata.
·        Metode demonstrasi menunjukkan pelaksanaan ilmu pengetahuan dengan contoh.
·        Demonstrasi mempercepat penyerapan langsung dari sumbernya.
·        Dapat membantu mengembangkan kepemimpinan lokal
·        Dapat memberikan bukti bagi praktik yang dianjurkan.
·        Melihat sebelum melakukan. Manfaat bagi siswa dengan melihat sesuatu yang dilakukan sebelum mereka harus melakukannya sendiri.
c.        Kelemahan
·        Demonstrasi yang baik tidak mudah dilaksanakan. Keterampilan yang memadai diperlukan untuk melaksanakan demonstrasi yang baik.
·        Metode demonstrasi terbatas hanya untuk jenis pengajaran tertentu.
·        Demonstrasi hasil memerlukan waktu yang banyak dan agak mahal.
·        Memerlukan banyak persiapan awal.
·        Dapat dipengaruhi oleh cuaca.
·        Dapat mengurangi kepercayaan jika tidak berhasil
·        Tidak mengalami langsung. Sebuah demonstrasi bukan merupakan pengalaman langsung bagi siswa kecuali mereka mengikuti dari awal, sebagai guru adalah menunjukkan langkah atau keterampilan.

4.          Metode Eksperimen (Percobaan)
Metode eksperimen adalah metode pemberian kesempatan kepada anak didik perorangan atau kelompok, untuk dilatih melakukan suatu proses atau percobaan. Metode eksperimen merupakan suatu metode mengajar yang menggunakan alat dan tempat tertentu dan dilakukan lebih dari satu kali. Penggunaan teknik ini mempunyai tujuan agar siswa mampu mencari dan menemukan sendiri berbagai jawaban atau persoalan-persoalan yang dihadapinya dengan mengadakan percobaan sendiri. Juga siswa dapat terlatih dalam cara berfikir yang ilmiah.
Kelebihan dan kelemahan tersebut menurut Martiningsih (2007) yakni sebagai berikut :
a.        Kelebihan
·        Metode ini dapat membuat anak didik lebih percaya atas kebenaran atau kesimpulan berdasarkan percobaannya sendiri daripada hanya menerima kata guru atau buku.
·        Memotivasi peserta didik untuk mengeksplorasi (menjelajahi) tentang ilmu dan teknologi.
·        Dapat membina manusia yang dapat membawa terobosan-terobosan baru dengan penemuan sebagai hasil percobaan.
b.       Kelemahan
·        Tidak cukupnya alat-alat yang dibutuhkan mengakibatkan tidak setiap anak didik berkesempatan mengadakan ekperimen.
·        Memerlukan jangka waktu yang lama.
·        Metode ini lebih sesuai untuk menyajikan bidang-bidang ilmu sains dan teknologi.
c.        Aplikasi dalam Pembelajaran
Prosedur eksperimen menurut Roestiyah (2001:81) yang dikutip dalam blog Martiningsih (2007)  adalah :
1)    Perlu dijelaskan kepada siswa tentang tujuan eksprimen,mereka harus memahami masalah yang akan dibuktikan melalui eksprimen.
2)    Memberi penjelasan kepada siswa tentang alat-alat serta bahan-bahan yang akan dipergunakan dalam eksperimen, hal-hal yang harus dikontrol dengan ketat, urutan eksperimen, hal-hal yang perlu dicatat.
3)    Selama eksperimen berlangsung guru harus mengawasi pekerjaan siswa. Bila perlu memberi saran atau pertanyaan yang menunjang kesempurnaan jalannya eksperimen.
4)    Setelah eksperimen selesai guru harus mengumpulkan hasil penelitian siswa, mendiskusikan di kelas, dan mengevaluasi dengan tes atau tanya jawab.
Dalam metode eksperimen, guru dapat mengembangkan keterlibatan fisik dan mental, serta emosional siswa. Siswa mendapat kesempatan untuk melatih ketrampilan proses agar memperoleh hasil belajar yang maksimal. Pengalaman yang dialami secara langsung dapat tertanam dalam ingatannya. Keterlibatan fisik dan mental serta emosional siswa diharapkan dapat diperkenalkan pada suatu cara atau kondisi pembelajaran yang dapat menumbuhkan rasa percaya diri dan juga perilaku yang inovatif dan kreatif.
5.          Metode Discovery
Metode Discovery menurut Suryosubroto (2002:192) diartikan sebagai suatu prosedur mengajar yang mementingkan pengajaran perseorangan, manipulasi obyek dan lain-lain, sebelum sampai kepada generalisasi.
Metode Discovery merupakan komponen dari praktek pendidikan yang meliputi metode mengajar yang memajukan cara belajar aktif, berorientasi pada proses, mengarahkan sendiri, mencari sendiri dan reflektif. Menurut Encyclopedia of Educational Research, penemuan merupakan suatu strategi yang unik dapat diberi bentuk oleh guru dalam berbagai cara, termasuk mengajarkan ketrampilan menyelidiki dan memecahkan masalah sebagai alat bagi siswa untuk mencapai tujuan pendidikannya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa metode discovery adalah suatu metode dimana dalam proses belajar mengajar guru memperkenankan siswa-siswanya menemukan sendiri informasi yang secara tradisional biasa diberitahukan atau diceramahkan saja.
Suryosubroto (2002:193) mengutip pendapat Sund (1975) bahwa discovery adalah proses mental dimana siswa mengasimilasi sesuatu konsep atau sesuatu prinsip. Proses mental tersebut misalnya mengamati, menggolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, membuat kesimpulan, dan sebagainya.
a.           Tahapan-tahapan Discovery
Ada lima tahap yang harus ditempuh dalam metode discovery menurut Rohani(2004:39) yaitu:
1)      Perumusan masalah untuk dipecahkan peserta didik.
2)      Penetapan jawaban sementara atau pengajuan hipotesis.
3)      Peserta didik mencari informasi , data, fakta, yang diperlukan untuk menjawab atau memecahkan masalah dan menguji hipotesis.
4)      Menarik kesimpulan dari jawaban atau generalisasi.
5)      Aplikasi kesimpulan atau generalisasidalam situasi baru.
b.          Kelebihan
Kelebihan metode discovery Suryosubroto (2002:2001) adalah:
§  Dianggap membantu siswa dalam mengembangkan atau memperbanyak persediaan dan penguasaan ketrampilan dan proses kognitif siswa, andaikata siswa itu dilibatkan terus dalam penemuan terpimpin. Kekuatan dari proses penemuan datang dari usaha untuk menemukan, jadi seseorang belajar bagaimana belajar itu.
§  Pengetahuan diperoleh dari strategi ini sangat pribadi sifatnya dan mungkin merupakan suatu pengetahuan yang sangat kukuh, dalam arti pendalaman dari pengertian retensi dan transfer.
§  Strategi penemuan membangkitkan gairah pada siswa, misalnya siswa merasakan jerih payah penyelidikannya, menemukan keberhasilan dan kadang-kadang kegagalan.
§  metode ini memberi kesempatan kepada siswa untuk bergerak maju sesuai dengan kemampuannya sendiri.
§  metode ini menyebabkan siswa mengarahkan sendiri cara belajarnya sehingga ia lebih merasa terlibat dan bermotivasi sendiri untuk belajar, paling sedikit pada suatu proyek penemuan khusus.
§  Metode discovery dapat membantu memperkuat pribadi siswa dengan bertambahnya kepercayaan pada diri sendiri melalui proses-proses penemuan. Dapat memungkinkan siswa sanggup mengatasi kondisi yang mengecewakan.
§  Strategi ini berpusat pada anak, misalnya memberi kesempatan pada siswa dan guru berpartisispasi sebagai sesame dalam situasi penemuan yang jawaban nya belum diketahui sebelumnya.
§  Membantu perkembangan siswa menuju skeptissisme yang sehat untuk menemukan kebenaran akhir dan mutlak.
c.           Kelebihan
Kelemahan metode discovery Suryosubroto (2002:2001) adalah:
§  Harus adanya persiapan mental untuk cara belajar ini.
§  Metode ini kurang berhasil untuk mengajar kelas dalam skala besar.
§  Harapan yang ditumpahkan pada strategi ini mungkin mengecewakan guru dan siswa yang sudah biasa dengan perencanaan dan pengajaran secara tradisional.
§  Mengajar dengan penemuan mungkin akan dipandang sebagai cara yang terlalu mementingkan memperoleh pengertian dan kurang memperhatikan diperolehnya sikap dan ketrampilan. Sedangkan sikap dan ketrampilan diperlukan untuk memperoleh pengertian atau sebagai perkembangan emosional sosial secara keseluruhan.
§  Dalam beberapa ilmu, fasilitas yang dibutuhkan untuk mencoba ide-ide, mungkin tidak ada.
§  Strategi ini mungkin tidak akan memberi kesempatan untuk berpikir kreatif, kalau pengertian-pengertian yang akan ditemukan telah diseleksi terlebih dahulu oleh guru, demikian pula proses-proses di bawah pembinaannya. Tidak semua pemecahan masalah menjamin penemuan yang penuh arti.

6.          Metode Inquiry
Metode inquiry adalah metode yang mampu menggiring peserta didik untuk menyadari apa yang telah didapatkan selama belajar. Inquiry menempatkan peserta didik sebagai subyek belajar yang aktif (Mulyasa , 2003:234).
Kendatipun metode ini berpusat pada kegiatan peserta didik, namun guru tetap memegang peranan penting sebagai pembuat desain pengalaman belajar. Guru berkewajiban menggiring peserta didik untuk melakukan kegiatan. Kadang kala guru perlu memberikan penjelasan, melontarkan pertanyaan, memberikan komentar, dan saran kepada peserta didik. Guru berkewajiban memberikan kemudahan belajar melalui penciptaan iklim yang kondusif, dengan menggunakan fasilitas media dan materi pembelajaran yang bervariasi.
Inquiry pada dasarnya adalah cara menyadari apa yang telah dialami. Karena itu inquiry menuntut peserta didik berfikir. Metode ini melibatkan mereka dalam kegiatan intelektual. Metode ini menuntut peserta didik memproses pengalaman belajar menjadi suatu yang bermakna dalam kehidupan nyata. Dengan demikian , melalui metode ini peserta didik dibiasakan untuk produktif, analitis , dan kritis.
Langkah-langkah dalam proses inquiry adalah menyadarkan keingintahuan terhadap sesuatu, mempradugakan suatu jawaban, serta menarik kesimpulan dan membuat keputusan yang valid untuk menjawab permasalahan yang didukung oleh bukti-bukti. Berikutnya adalah menggunakan kesimpulan untuk menganalisis data yang baru (Mulyasa, 2005:235).
a.         Strategi Pelaksanaan Inquiry
Strategi pelaksanaan inquiry adalah :
1)         Guru memberikan penjelasan, instruksi atau pertanyaan terhadap materi yang akan diajarkan.
2)         Memberikan tugas kepada peserta didik untuk menjawab pertanyaan, yang jawabannya bisa didapatkan pada proses pembelajaran yang dialami siswa.
3)         Guru memberikan penjelasan terhadap persoalan-persoalan yang mungkin membingungkan peserta didik.
4)         Resitasi untuk menanamkan fakta-fakta yang telah dipelajari sebelumnya.
5)         Siswa merangkum dalam bentuk rumusan sebagai kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan (Mulyasa, 2005:236).
b.        Kelebihan
Teknik inquiry ini memiliki keunggulan yaitu :
·           Dapat membentuk dan mengembangkan konsep dasar kepada siswa, sehingga siswa dapat mengerti tentang konsep dasar ide-ide dengan lebih baik.
·           Membantu dalam menggunakan ingatan dan transfer pada situasi proses belajar yang baru.
·           mendorong siswa untuk berfikir dan bekerja atas inisiatifnya sendiri, bersifat jujur, obyektif, dan terbuka.
·           Mendorong siswa untuk berpikir intuitif dan merumuskan hipotesanya sendiri.
·           Memberi kepuasan yang bersifat intrinsik.
·           Situasi pembelajaran lebih menggairahkan.
·           Dapat mengembangkan bakat atau kecakapan individu.
·           Memberi kebebasan siswa untuk belajar sendiri.
·           Menghindarkan diri dari cara belajar tradisional.
·           Dapat memberikan waktu kepada siswa secukupnya sehingga mereka dapat mengasimilasi dan mengakomodasi informasi.

7.          Metode Latihan
Metode latihan (driil) disebut juga metode training, yaitu suatu cara mengajar untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan tertentu. Juga, sebagai sarana untuk memelihara kebiasaan-kebiasaan yang baik. Selain itu, metode ini dapat digunakan untuk memperoleh suatu ketangkasan, ketepatan, kesempatan, dan keterampilan.
a.         Kelebihan
Kelebihan metode latihan :
·           Dapat untuk memperoleh kecakapan motoris, seperti menulis, melafalkan huruf, membuat dan menggunakan alat-alat.
·           Dapat untuk memperoleh kecakapan mental, seperti dalam perkalian, penjumlahan, pengurangan, pembagian, tanda-tanda/simbol, dan sebagainya.
·           Dapat membentuk kebiasaan dan menambah ketepatan dan kecepatan pelaksanaan.
b.        Kekurangan
Kekurangan metode latihan:
·           Menghambat bakat dan inisiatif anak didik karena anak didik lebih banyak dibawa kepada penyesuaian dan diarahkan kepada jauh dan pengertian.
·           Menimbulkan penyesuaian secara statis kepada lingkungan.
·           Kadang-kadang latihan yang dilaksanakan secara berulang-ulang merupakan hal yang monoton dan mudah membosankan.
·           Dapat menimbulkan verbalisme.

8.          Metode Simulasi
Simulasi berasal dari kata simulate yang artinya berpura-pura atau berbuat seakan-akan. Sebagai metode mengajar, simulasi dapat diartikan sebagai cara penyajian pengalaman belajar dengan menggunakan situasi tiruan untuk memahami suatu konsep, prinsip, atau keterampilan tertentu.
a.        Kelebihan
Kelebihan metode simulasi di antaranya :
·          Simulasi dapat dijadikan sebagai bekal bagi siswa dalam menghadapi situasi yang sebenarnya kelak, baik dalam kehidupan keluarga, masyarakat, maupun menghadapi dunia kerja.
·          Simulasi dapat mengembangkan kreatifitas siswa, karena melalui simulasi siswa diberi kesempatan untuk memainkan peran sesuai dengan topik yang disimulasikan.
·          Simulasi dapat memupuk keberanian dan percaya diri siswa.
·          Memperkaya pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diperlukan untuk menghadapi berbagai situasi sosial yang problematis.
·          Simulasi dapat meningkatkan gairah siswa dalam proses pembelajaran.
b.        Kekurangan
Disamping memiliki kelebihan, metode simulasi juga memiliki kekurangan, di antaranya :
·          Pengalaman yang diperoleh melalui simulasi tidak selalu tepat dan sesuai dengan kenyataan di lapangan.
·          Pengelolaan yang kurang baik, sering simulasi dijadikan sebagai alat hiburan, sehingga tujuan pembelajaran menjadi terabaikan.
·          Faktor psikologis seperti rasa malu dan takut sering mempengaruhi siswa dalam melakukan simulasi.
c.         Jenis-Jenis Simulasi
Simulasi terdiri atas beberapa jenis, di antaranya :
1.         Sosiodrama
Sosiodrama adalah metode pembelajaran bermain peran untuk memecahkan masalah-masalah yang berkaitan dengan fenomena sosial, permasalahan yang menyangkut hubungan antara manusia seperti masalah kenakalan remaja, narkoba, gambaran keluarga otoriter, dan lain sebagainya. Sosiodrama digunakan untuk memberikan pemahaman dan penghayatan akan masalah-masalah sosial serta mengembangkan kemampuan siswa untuk memecahkannya.
Kelebihan metode sosiodrama diiantaranya adalah :
·      Mengembangkan kreativitas siswa (dengan peran yang dimainkan siswa dapat berfantasi).
·      Memupuk kerjasama antara siswa.
·      Menumbuhkan bakat siswa dalam seni drama.
·      Siswa lebih memperhatikan pelajaran karena menghayati sendiri.
·      Memupuk keberanian berpendapat di depan kelas.
·      Melatih siswa untuk menganalisa masalah dan mengambil kesimpulan dalarn waktu singkat.
Adapun kelemahan dari metode ini adalah:
·      Adanya kurang kesungguhan para pemain menyebabkan tujuan tak tercapai.
·      Pendengar (siswa yang tak berperan) sening mentertawakan tingkah laku pemain sehingga merusak suasana.
2.         Psikodrama
Psikodrama adalah metode pembelajaran dengan bermain peran yang bertitik tolak dari permasalahan-permasalahan psikologis. Psikodrama bisanya digunakan untuk terapi, yaitu agar siswa memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang dirinya, menemukan konsep diri, menyatakan reaksi terhadap tekanan-tekanan yang dialaminya.
3.         Role Playing
Role Playing atau bermain peran adalah metode pembelajaran sebagai bagian dari simulasi yang diarahkan untuk mengkreasi peristiwa sejarah, mengkreasi peristiwa-peristiwa aktual, atau kejadian-kejadian yang mungkin muncul pada masa mendatang.
Bermain peran pada prinsipnya merupakan metode untuk ‘menghadirkan’ peran-peran yang ada dalam dunia nyata ke dalam suatu ‘pertunjukan peran’ di dalam kelas/pertemuan, yang kemudian dijadikan sebagai bahan refleksi agar peserta memberikan penilaian terhadap keunggulan maupun kelemahan masing-masing peran tersebut, dan kemudian memberikan saran/alternatif pendapat bagi pengembangan peran-peran tersebut. Metode ini lebih menekankan terhadap masalah yang diangkat dalam ‘pertunjukan’, dan bukan pada kemampuan pemain dalam melakukan permainan peran.

9.          Metode Proyek
Metode proyek adalah suatu cara mengajar yang memberikan kesempatan kepada anak didik untuk menggunakan unit-unit kehidupan sehari-hari sebagai bahan pelajarannya. Bertujuan agar anak didik tertarik untuk belajar.
a.        Kelebihan
Kelebihan metode proyek:
·           Dapat merombak pola pikir anak didik dari yang sempit menjadi lebih luas dan menyeluruh dalam memandang dan memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan.
·           Melalui metode ini, anak didik dibina dengan membiasakan menerapkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan secara terpadu, yang diharapkan praktis dan berguna dalam kehidupan sehari-hari.
b.       Kekurangan
Kekurangan metode proyek:
·           Kurikulum yang berlaku di negara kita saat ini, baik secara vertikal maupun horizontal, belum menunjang pelaksanaan metode ini;
·           Bahan pelajaran, perencanaan, dan pelaksanaan metode ini sukar dan memerlukan keahlian khusus dari guru, sedangkan para guru belum disiapkan untuk ini;
·           Harus dapat memilih topik unit yang tepat sesuai kebutuhan anak didik, cukup fasilitas, dan memiliki sumber-sumber belajar yang diperlukan;
·           Bahan pelajaran sering menjadi luas sehingga dapat mengaburkan pokok unit yang dibahas.

10.      Metode Diskusi
Metode diskusi adalah metode pembelajaran yang menghadapkan siswa pada suatu pemasalahan. Tujuan utama metode ini adalah untuk memecahkan suatu permasalahan, menjawab pertanyaan, menambah dan memahami pengetahauan siswa, serta untuk membuat suatu keputusan (Killen, 1998). Karena itu, diskusi bukanlah debat yang bersifat mengadu argumentasi. Diskusi lebih bersifat bertukar pengalaman untuk menentukan keputusan tertentu secara bersama-sama.
a.        Kelebihan
Kelebihan metode diskusi antara lain :
·           Metode diskusi dapat merangsang siswa untuk lebih kreatif khususnya dalam memeberikan gagasan atau ide-ide.
·           Dapat melatih siswa untuk membiasakan diri bertukar pikiran dalam mengatasi setiap permasalahan.
·           Dapat melatih siswa untuk dapat melatih mengemukakan pendapat atau gagasan secara verbal. Selain itu, siswa juga lebih terlatih untuk menghargai pendapat orang lain.
b.        Kelemahan
Selain beberapa kelebihan, metode diskusi juga memiliki beberapa kelemahan, di antaranya :
·           Sering terjadi pembicaraan dalam diskusi dikuasai oleh 2 atau 3 orang siswa yang memiliki keterampilan berbicara.
·           Kadang-kadang pembahasan dalam diskusi meluas, sehingga kesimpulan menjadi kabur.
·           Memerlukan waktu yang cukup panjang, yang kadang-kadang tidak sesuai dengan yang direncanakan.
·           Dalam diskusi sering terjadi perbedaan pendapat yang bersifat emosional dan tidak terkontrol. Akibatnya, terkadang ada pihak yang merasa tersinggung, sehingga dapat mengganggu iklim pembelajaran.
c.         Jenis-Jenis Diskusi
1.         Diskusi Kelas
Diskusi kelas atau disebut juga diskusi kelompok adalah proses pemecahan masalah yang dilakukan oleh seluruh anggota kelas sebagai peserta diskusi. Prosedur yang digunakan dalam diskusi ini yaitu : pertama, guru membagi tugas sebagai pelaksana diskusi, misalnya siapa yang akan jadi moderator, siapa yang menjadi penulis. Kedua, sumber masalah (guru, siswa, atau ahli tertentu dari luar) memaparkan masalah yang harus dipecahkan selam 10-15 menit. Ketiga, siswa diberi kesempatan untuk menanggapi permasalahan setelah dipersilahkan oleh moderator. Keempat, sumber masalah memberi tanggapan, dan kelima, moderator menyimpulkan hasil diskusi.
2.         Diskusi Kelompok Kecil
Diskusi kelompok kecil dilakukan dengan membagi siswa dalam kelompo kelompok. Jumlah anggota kelompok antara 3-5 orang. Pelaksanaanya dimulai dengan guru menyajikan permasalahan secara umum, kemudian masalah tersebut dibagi-bagi ke dalam submasalah yang harus dipecahkan oleh setiap kelompok kecil. Selesai diskusi dalam kelompok kecil, ketua kelompok menyajikan masalah hasil diskusinya
3.         Simposium
Symposium adalah metode mengajar dengan membahas suatu persoalan dipandang dari berbagai sudut pandang berdasarkan keahlian. Symposium dilakukan untuk memberikan wawasan yang luas kepada siswa. Setelah para penyaji memberikan pandangannya tentang masalah yang dibahas, maka symposium diakhiri dengan pembacaan kesimpulan hasil kerja tim perumus yang telah ditentukan sebelumnya.
4.         Diskusi Panel
Diskusi panel adalah pembahasan suatu masalah yang dilakukan oleh beberapa orang panelis yang biasanya terdiri dari 4-5 orang di hadapan audiens. Hal inilah yang membedakan diskusi panel dengan beberapa diskusi lainnya

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang

                Banyak di antara para guru yang marasa bahwa pekerjaan sebagai guru adalah rendah dan  hina jika dibandingkan dengan pekerjaan kantor atau bekerja di suatu PT ,umpamanya.Hal ini mungkin disebabkan pandangan masyarakat terhadap guru masih sempit dan picik .Suatu pandangan yangt umumnya bersifat materialistis ,hanya ber tendens kepada keduniawian semata .
               Pandangan seperti itu adalah pandangan yang salah .Pekerjaan sebagai guru adalah pekerjaan yang luhur dan mulia ,baik ditinjau dari sudut masyarakat dan Negara maupun ditinjau dari sudut keagamaan .Guru sebagai pendidik adalah seorang yang berjasa besar terhadap masyarakat dan Negara .Tinggi atau rendahnya kebudayaan suatu masyarakat, maju atau mundurnya tingkat kebudayaan suatu masyarakat dan Negara, sebagian  besar bergantung kepada pendidikan dan pengajaran yang diberikan oleh guru-guru.
             Dalam proses mengajar dan keberhasilan siswa sebagian  besar sangat ditentukan oleh peranan dan kompetensi guru .Peranan dan kompetensi   guru dalam proses belajar mengajar meliputi banyak hal .Adam dan Decey dalam “Basic Principles Of Student Teaching” mereka menyebutkan guru antara lain berperan sebagai pengajar ,pemimpin kelas, pembimbing, perencana, motivator, konselor, dsb.
            Keberhasilan guru mengelola kelas dalam arti siswa dan lingkungan pelajarnya serta ramuan pelajaran yang baik akan sangat mendukung konsentrasi dan ketertarikan siswa terhadap pelajaran yang diajarkannya, Oleh karena itu setiap sekolah harus mempunyai guru –guru atau tenaga pengajar yang berkualitas atau yang profesional. Sebagai pendidik profesional, guru bukan saja dituntut melaksanakan tugasnya secara profesional, tetapi juga harus memiliki pengetahuan dan kemampuan profesional .

1.2 Rumusan Masalah
1.      Apa yang di maksud Guru Profesional?
2.      Apa hakikat guru profesional?
3.      Sebutkan prinsip-prinsip Guru profesional?
4.      Apa saja yang termasuk dalam persyaratan Guru profesional?sebutkan?
5.      Jelaskan mengenai  guru  sebagai pendidik profesional?

1.3 Tujuan
a.       Mengetahui dan memahami pengertian guru profesional
b.      Mengetahui dan memahami hakikat guru  profesional
c.       Mengetahui  prinsip-prinsip guru profesional
d.      Mengetahui dan memahami syarat-syarat guru profesional
e.       Mengetahui dan memahami mengenai guru sebagai pendidik profesional

BAB II
PEMBAHASAN
KONSEP PENDIDIK  PROFESIONAL
                                                                        
            Istilah profesional adalah kata sifat dari kata profession  (pekerjaan ) yang berarti sangat mampu melakukan pekerjaan.

2.1 Pengertian Guru Profesional
Dengan demikian guru profesional adalah guru yang melaksanakan tugas keguruan dengan kemampuan tinggi  (profesiens)  sebagai sumber kehidupan.Atau dengan kata lain guru profesional adalah orang yang terdidik dan terlatih dengan baik,serta memiliki pengalaman di bidangnya  (Uzer Usman,1996:6) .
            Menurut Riced dan Bishoprick  (dalam bafadal; 2004 :5)  guru profesional adalah guru yang mampu mengelola dirinya sendiri dalm melaksanakan tugasnya sehari-hari.Profesionalisasi guru berdasarkan pendapat tersebut di pandang sebagai satu proses yang bergerak dari ketidaktahuan  (ignorance) menjadi tahu dari ketidak matangan  (imunity)  menjadi matang, dari di arahkan orang lain  (other-directedness)  menjadi mengarahkan sendiri.
            Sedangkan Glickman  (1981)  dalam bafadal  (2004 : 5)  menegaskan bahwa seseorang akan bekerja secara profesional bilamana orang tersebut memiliki kemampuan dan dengan pemikiran tersebut di atas, seorang guru dapat di katakan profesional bilamana memiliki kemampuan tinggi  (high level of abstack) dan motifasi kerja tinggi (profesional bilamana memiliki kemampuan kerja orang tinggi dan kesungguhan hati untuk mengerjakan dengan sebaik-baiknya Sesuai high level of comitmen) .
            Menurut Glickman  (1981) dalam bafadal  (2004: 6) bahwa guru yang memiliki tingkat abstraksi yang tinggi adalah guru yang mampu mengelola tugas,menentukan berbagai permasalahan dalam tugas dan mampu secara mandiri memecahkanya.

 2.2.  Hakikat Guru Profesional
            Hakikat guru yang profesional adalah guru yang mempunyai visi yang tepat dan berbagai aksi yang inovatif.Penjelasannta sbb:

a.       Guru dan visi yang tepat

Ada dua tinjauan konsep tentang visi.Visi dapat diartikan secara sederhana sebagai pandangan.Guru dengan visi yang tepat berarti memiliki pandangan yang tepat tentang pembelajaran,yaitu:
Ø  Pembelajaran merupakan jantung dalam proses pendidikan,sehingga kualitas pendidikan terletak pada kualitas pendidikannya.
Ø  Pembelajan tidak akan menjadi lebih baik dengan sendirinya
Ø  Harus dilaksanakan sebagai sebuah pengabdian,bukan sebagai proyek.

b.      Guru dengan aksi inovatif dan mandiri

Perlu di garis bawhi bahwa yang di maksud dengan aksi di atas adalah aksi pembaharuan dan pembauran pembelajaran di sekolah dapat terjadi hanya dengan adanya inovasi pembelajaran.Dalam kaitan dengan pembelajaran ,ada dua persfektif di antara teoritis tentang dapat tidaknya sesuatu yang baru itu di sebut sebagai inovasi ,.
Pertama, ada di antara teoritis yang berpendapat bahwa “sesuatu yang baru dapat di sebut sebagai inovasi apabila di ciptakan sendiri oleh lembaga yang bersangkutan .”
Kedua,diantara para teoritis ada yang berpendapat bahwa “sesuatu yang baru itu dapat di katakana sebagai inovasi tidak harus di ciptakan sendiri oleh pihak internel lembaga.

23  Prinsip-prinsip Guru Profesional
Prinsip-prinsip yang di maksud meliputi:
a.       Guru harus dapat membangkitkan perhatian peserta didik pada materi pelajaran yang di berikan serta dapat menggunakan berbagai media sumber belajar yang bervariasi.
b.      Guru harus dapt membangkitkan minat peserta didik untuk aktif berfikir serta mencari dan menemukan sendiri pengetahuan .
c.       Guru harus dapat membuat urutan dalam pemberian pelajaran dan penyesuaian dengan usia dan tahapan tugas perkembangan peserta didik
d.      Guru perlu menghubungkan pelajaran yang akan di berikan dengan pengetahuan yang telah dimiliki peserta didik (kegiatan apersepsi) ,agar peserta didik menjadi mudah dalam memahami pelajaran yang di terimanya.
e.       Proses Dalam pembelajaran, diharapkan guru dapat menjelaskan unit pelajaran berulang-ulang hingga tanggapan peserta didik manjadi jelas.
f.       Guru wajib memperhatikan dan memikirkan korelasi atau hubungan antara mata pelajaran dan/ atau praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari.
g.      Guru harus tetap menjadi konsentrasi belajar para peserta didik dengan cara memberikan kesempatan berupa pangalanan secara langsung,mengamati/meneliti dan menyimpulkan pengetahuan yang didapatnya.
h.      Guru haris mengembangkan sikap peserta didik dalam membina hubungan sosial, baik dalam kelas maupun di luar kelas .
i.        Guru harus menyelidiki  dan mendalami perbedaan peserta didik  secara individual agar dapat melayani siswa sesuai dengan perbedaannya tersebut  (Uno, 2007:16) .

Prinsip-prinsip guru profesional berdasarkan Undang-Undang RI No.14 tahun 2005:
a.       Memiliki bakat, minat, panggilan jiwa dan idealisme.
b.      Memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan, ketaqwaan dan akhlak mulia.
c.       Memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugas.
d.      Memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas.
e.       Memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan.
f.       Memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja.
g.      Memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan sepanjang hayat belajar.
h.      Memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas keprofesionalan;dan
i.        Memiliki organisasi profesi yang mmempunyai kewenangan mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan guru.
2.4 Persyaratan Guru Profesional

Dari uraian di muka jelas bahwa pekerjaan guru itu berat, tetapi luhur dan mulia.Tugas guru tidak hanya “mengajar”, tetapi juga “mendidik”. Maka, untuk melakukan tugas sebagai guru, tidak sembarang orang dapat menjalankanya. Sebagai guru yang baik harus memenuhi syarat-syarat yang yang didalam UU no 12  tahun 1954 tentang Dasar-Dasar pendidikan dan pengajaran di sekolah untuk seluruh Indonesia dapat di simpulkan sbb:
a.       Beijazah 
b.      Sehat  jasmani
c.       Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa  dan berkelakuan baik
d.      Bertanggung jawab
e.       Berjiwa  nasional
           
Sedangkan  secara umum syarat-syarat guru profesional sbb:
a.       Memiliki kualifikasi pendidkan yang memadai.
b.      Memiliki kompetensi yang terdiri dari :  (Memahami wawasan kependidikan, merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, mengevaluasi pembelajaran dan pengembangan profesi) . 
c.       Sehat jasmani dan rohani .
d.      Memiliki komitmen yang tinggi terhadap profesi guru.

            ** Sikap dan Sifat Guru yang Baik
          Dalam penjelasan di atas dikatakan salah satu syarat guru profesional yang harus dimiliki oleh guru haris berkelakuan baik. Jika kita mengatakan “berkelakuan baik”, maka di dalamnya terkandung segala sikap, watak, dan sifat-sifat yang baik. Di sini tidak mungkin kita sebutkan semua sikap dan sifat yang baik yang harus ada pada guru. Di dalam pasal ini akan kita pilih beberapa sikap dan sifat yang sangat penting saja diantaranya:
a.       Adil  
b.      Percaya dan suka kepada murid-muridnya .
c.       Sabar dan rela berkorban .
d.      Memiliki perbawa  (gezag)  terhadap anak-anak .
e.       Bersikap baik terhadap guru-guru lainya .
f.       Bersikap baik terhadap masyarakat .
g.      Benar-benar menguasai mata pelajarannya .
h.      Suka pada mata pelajaran yang diberikannya .
i.        Berpengetahuan luas.

2.5 Tugas dan Peranan Guru
           
            Dalam melihat dan menentukan guru profesional tentu saja tidak terlepas dari tugas dan perananuya di sekolah khususnya di kelas.
·           Adapun tugas-tugas guru sebagai profesi meliputi:
a.       Mendidk
            Mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup .
b.      Mengajar
Mengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.
c.       Melatih
             Melatih berarti mengembangkan ketrampilan-ketrampilan siswa.

·         Adapun tugas guru dalam bidang kemanusiaan meliputi:
a.       Dapat menjadi orang tua bagi murid-muridnya di sekolah .
b.      Dapat menarik simpati para siswa;dan juga
c.       Dapat menjadi motivator dalam kegiatan belajar .

·         Adapun tugas  guru dalam kemasyarakatan meiputi:
a.       Mendidik dan mengajar masyarakat untuk menjadi warga Negara Indonesia yang bermoral pancasila .
b.      Mencerdaskan Bangsa Indonesia.

·         Adapun peranan guru dalam kelas adalah sebagai Demonstrator, Pengelola Kelas, Mediator, dan Fasilitator serta sebagai Evaluator dan juga Konselor.

2.6  Guru  Sebagai Pendidik Profesional
Sebagai pendidik  profesional, guru bukan saja dituntut melaksanakan tugasnya secara profesional, tetapi juga hrus memiliki pengetahuan dan kemampuan profesional. Dalam diskusi pengembangan model pendidikan profesional tenaga kependidik yang diselenggarakan oleh PPS IKIP Bandung Tahun 1990, dirumuskan 10 ciri suatu profesi, yaitu:
1.      Memiliki fungsi dan signifikasi sosial.
2.      Memiliki keahlian/ ketrampilan tertentu.
3.      Keahlian/ketrampilan diperoleh dengan menggunakan teori dan metode ilmiah.
4.      Didasarkan atas disiplin ilmu yang jelas.
5.      Diperoleh dengan pendidikan dalam masa tertentu yang cukup lama.
6.      Aplikasi dan sosialisasi nilai-nilai profesional.
7.      Memiliki kode etik.
8.      Kebebasan untuk memberikan judgment dalam memecahkan masalah dalam lingkup kerjanya.
9.      Memiliki tanggung jawab profesional dan otonomi.
10.  Ada pengakuan dari masyarakat dan imbalan atas layanan profesinya.

            Louis E.Raths  (1964) , mengemukakan sejumlah kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang guru sbb:
1.      Explaning,Informing,Showing How
2.      Initiating,directing,administeting.
3.      Unifying the group.
4.      Giving security
5.      Clarifying attitudes,beliefs,problems
6.      Diagnosing learning problems
7.      Making curriculum materials
8.      Evaluating , recording, reporting
9.      Enriching, community activities
10.  Organizing and arranging classroom
11.  Participating in school activities
12.  Participating in professional and civic life.

            Departemen  pendidikan dan kebudayaan  (1980)  telah merumuskan kemampuan-kemampuan yang harus di miliki guru dan mengelompokannya atas tiga dimensi umum kemampuan yaitu:
1.      Kemampuan profesional
2.      Kemampuan sosial
3.      Kemampuan personal



Lebih lanjut Depdikbud  (1980) merinci ketiga kelompok kemampuan tersebut menjadi 10 kemampuan dasar,yaitu:
1.      Penguasaan bahan pelajaran.
2.      Pengelolaan program belajar-mengajar
3.      Pengelolaan kelas .
4.      Penggunaan media dan sumber pembelajaran.
5.      Penguasaan landasan-landasan kependidikan.
6.      Pengelolaan interaksi belajar-mengajar.
7.      Penilaian prestasi siswa.
8.      Pengenalan fungsi dan program bimbingan dan penyuluhan.
9.      Pengenalan dan penyelenggaraan administrasi sekolah.
10.  Pemahaman prinsip-prinsip dan pemanfaatan hasil penelitian pendidikan untuk kepentingan peningkatan mutu pengajaran.


BAB III
KESIMPULAN



Dari uraian di atas dapat di simpulkan bahwa,konsep pendidik profesional sangatlah penting dalam sebuah pendidikan,karena tanpa adanya konsep tersebut suatu proses belajar-mengajar tidak akan sempurna.Keberhasilan guru mengelola kelas dalam arti siswa dan lingkungan pelajarnya serta ramuan pelajaran yang baik akan sangat mendukung konsentasi dan ketertarikan siswa terhadap pelajaran yang di ajarkannya.Oleh karena itu,setiap sekolah harus mempunyai guru-guru atau tenaga pengajar yang berkualitas atau yang profesional.
Guru profesional merupakn orang yang terdidik dan terlatih dengan baik serta memiliki pengalaman yang kaya di bidangnya.Sedangkan hakikat guru profesional adalah guru yang mempunyai visi yang tepatdan berbagai aksi yang inovatif.                                
                                                  
  
PUSTAKA DAFTAR
                                                                                                   
Nurteti lilis,S.Pd.I,M.Pd. 2010. PEDAGOGIK: Pengantar teori dan analasis. Ciamis.
Nana Syaodih, Sukmadinata.Prof.Dr. 2008. Pengembangan kurikulum ( teori dan                         praktek ). Bandung:PT  Remaja Rosdakarya.
Purwanto,M. Ngalim, MP. 1998. Ilmu pendidikan teoritis dan praktis.Bandung: PT Remaja rosdakarya.
Depdikbud. 1989 Dasar-dasar kependidikan.Bandung
Pengertian Strategi Pembelajaran Afektif.
Strategi pembelajaran afektif adalah strategi yang bukan hanya bertujuan untuk mencapai pendidikan kognitif saja, akan tetapi juga bertujuan untuk mencapai dimensi yang lainnya. Yaitu sikap dan keterampilan afektif berhubungan dengan volume yang sulit diukur karena menyangkut kesadaran seseorang yang tumbuh dari dalam, afeksi juga dapat muncul dalam kejadian behavioral yang di akibat dari proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru.
Hakikat Pendidikan Nilai dan Sikap.
Sikap (afektif) erat kaitannya dengan nilai yang dimiliki oleh seseorang, sikap merupakan refleksi dari nilai yang dimiliki, oleh karenanya pendidikan sikap pada dasarnya adalah pendidikan nilai.
Nilai, adalah suatu konsep yang berada dalam pikiran manusia yang sifat – sifatnya tersembunyi, tidak berada dalam dunia yang empiris. Nilai berhubungan dengan pandangan seseorang tentang baik dan buruk, layak dan tidak, pandangan seseorang tentang semua itu, tidak bisa dirubah. Kita mungkin hanya dapat mengetahui dari prilaku yang bersangkutan oleh karena itu, nilai pada dasarnya adalah standar perilaku sesorang. Dengan demikian, pendidikan nilai pada dasarnya proses penanaman perilaku kepada peserta didik yang diharapkan kepada siswa dapat berperilaku sesuai dengan pendangan yang di anggap baik dan tidak bertentangan dengan norma – norma yang berlaku.
Dougla Graham (Golu 2003) menyatakan 4 faktor merupakan dasar kepatuhan seseorang terhadap nilai – nilai tertentu :
v Normativist : Kepatuhan yang terdapat pada norma – norma hokum.
v Integralist : Kepatuhan yang di dasarkan pada kesadaran dan pertimbangan – pertimbangan yang rasional.
v Fenomalist : Kepatuhan berdasarkan suara hati atau sekedar basa – basi.
v Hedonist : Kepatuhan berdasarkan diri sendiri.
Nilai bagi seseorang tidaklah statis akan tetapi selalu berubah, setiap orang akan selalu menganggap sesuatu itu baik sesuai dengan pandangannya pada saat itu. Oleh sebab itu, system nilai yang dimiliki seseorang bisa di bina dan diarakhan. Komitmen seseorang terhadap suatu nilai tertentu terjadi melalu pembentukan sikap, yakni kecendrungan seseorang terhadap suatu objek, misalnya jika seseorang berhadapan dengan sesuatu objek, dia akan menunjukkan gejala senang atau tidak senang, suka atau tidak suka. Golu (2005) menyimpulkan tentang nilai tersebut :
ü Nilai tidak bisa di ajarkan tetapi di ketahui dari penampilannya.
ü Pengembangan dominan efektif pada nilai tidak bisa di pisahkan dari aspek kognitif dan psikomotorik.
ü Masalah nilai adalah masalah emosional dan karena itu dapat berubah, berkembang, sehingga bisa di bina.
ü Perkembangan nilai atau moral tidak akan terjadi sekaligus, tetapi melalui tahap tertentu.
Sikap adalah kecendrungan seseorang untuk menerima atau menolak suatu objek berdasarkan nilai yang di anggap baik atau tidak baik. Dengan demikian, belajar sikap berarti memperoleh kecendrungan untuk menerima atau menolak suatu objek penilaian terhadap objek itu sebagai hal yang berguna atau berharga (sikap positif) dan tidak berguna atau berharga (sikap negatif).
Proses Pembentukan Sikap.
Pola Pembiasaan.
Dalam proses pembelajaran di sekolah, baik secara disadari maupun tidak, guru dapat menanamkan sikap tertentu kepada siswa melalui proses pembiasaan, misalnya sikap siswa yang setiap kali menerima perilaku yang tidak menyenangkan dari guru, satu contoh mengejek atau menyinggung perasaan anak. Maka lama kelamaan akan timbul perasaa benci dari anak tersebut yang pada akhirnya dia juga akan membenci pada guru dan mata pelajarannya.
Modeling.
Pembelajaran sikap dapat juga dilakukan melalui proses modeling yaitu pembentukan sikap melalui proses asimilasi atau proses pencontohan. Salah satu karakteristik anak didik yang sadang berkembang adalah keinginan untuk malakukan peniruan (imitasi). Hal yang di tiru itu adalah perilaku – perilaku yang di peragakan atau di demonstrasikan oleh orang yang menjadi idamannya. Modeling adalah proses peniruan anak terhadap orang lain yang menjadi idolanya atau orang yang dihormatinya. Pemodelan biasanya di milai dari perasaan kagum.
Model Strategi Pembelajaran Sikap.
Setiap strategi pembelajaran sikap pada umumnya menghadapkan siswa pada situasi yang mengandung konflik atau situasi problematis, melalui situasi ini di harapkan siswa dapat mengambil keputusan berdasarkan nilai yang dianggapnya baik.
a. Model Konsiderasi.
Model konsiderasi di kembangkan oleh Mc Paul, seorang humanis, Paul menganggap bahwa pembentukan moral tidak sama dengan pengembangan kognitif yang rasional. Menurutnya pembentukan atau pembelajaran moral siswa adalah pembentukan kepribadian bukan pengembangan intelektual. Oleh sebab itu, model ini menekankan kepada strategi pembelajaran yang dapat membentuk kepribadian. Tujuannya adalah agar siswa menjadi manusia yang memiliki kepribadian terhadap orang lain.
b. Model Pengembangan Kognitif.
Model ini banyak di ilhami oleh pemeikiran John Dewey dan Jean Piaget yang berpendapat bahwa perkembangan manusia terjadi sebagai proses dari restrukturisasi kognitif yang berlangsung serta berangsur – angsur menurut aturan tertentu.
c. Tehnik Mengklarifikasikan Nilai.
Tehnik volume clarification technic Que atau VCT dapat diartikan sebagai tehnik pengajaran untuk memebantu siswa dalam menerima dan menentukan suatu nilai yang di aggapnya baik dalam menghadapi suatu persoalan melalui proses menganalisis nilai yang sudah ada dan tertanam dalam diri siswa. VCT menekankan bagaimana sebenarnya seseorang membangun nilai yang menurut anggapannya baik, yang pada akhirnya nilai – nilai tersebut akan mewarnai perilaku dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat.
Kesulitan Dalam Pembelajaran Afektif.
Kesulitan dalam pembelajaran afektif ini dikarnakan :
Sulit melakukan control karna banyak factor yang dapat mempengaruhi perkembangan sikap seseorang. Pengembangan kemampuan sikap baik melalui proses pembiasaan maupun modeling bukan hanya di tentukan oleh factor guru, akan tetapi juga factor lain terutama factor lingkungan.
Keberhasilan pembentukan sikap tidak bisa di evaluasi dengan segera. Berdeda dengan aspek kognitif dan aspek keterampilan yang hasilnya dapat diketahui setelah proses pembelajaran berakhir, keberhasilan dari pembentukan sikap dapat dilihat pada rentang waktu yang cukup panjang. Hal ini disebabkan sikap berhubungan dengan internalisasi nilai yang memerlukan proses lama.
Pengaruh kemajuan tekhnologi, berdampak pada pembentukan karakter anak, tidak bisa di pungkiri program-program TV yang menayangkan acara produksi luar negri yang memiliki latar belakang budaya yang berbeda, maka dari itu perlahan tapi pasti budaya asing yang belum cocok dengan budaya local menerobos dalam setiap ruang kehidupan.
DAFTAR PUSTAKA
Joni T. Rakaa (1980) Strategi Belajar Mengajar, Jakarta : P3G.
Wina Sanjaya (2008) Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Jakarta : Kencana


Tidak ada komentar: